0 comments

Mentega Lebih Menyehatkan daripada Margarin?

http://coba-liat.blogspot.com/
Mentega
Jakarta - Bicara tentang kesehatan, biasanya yang menjadi kambing hitam adalah makanan berbahan produk hewan. Sayur-mayur hampir selalu memiliki kesan baik. Karena itu banyak orang yang mengira bahwa margarin yang dibuat dari bahan nabati lebih menyehatkan daripada mentega yang dibuat dari produk hewani.

Selama ini masih banyak yang salah menggunakan istilah margarin dan mentega. Sebagai informasi, margarin terbuat dari lemak nabati. Berbeda dengan mentega yang berasal dari lemak hewani, biasanya lemak susu sapi.

Penggunaan keduanya hampir sama, jadi bisa dijadikan alternatif satu sama lain. Namun, sebagian orang yang peduli kesehatan lebih memilih margarin, karena kandungan lemak jenuhnya lebih rendah. Ternyata, ada hal lain yang perlu kita perhatikan selain unsur tersebut.

Joanna Blythman, jurnalis investigatif makanan asal Inggris, mengemukakan pendapat dan data terkait margarin versus mentega. Ia menyinggung campuran margarin buatan industri berskala besar yang membahayakan kesehatan.

Dulu margarin dibuat dari lemak yang terhidrogenasi. Wujudnya yang padat dapat memblokir pembuluh arteri koroner. "Jujur, makanan ini mematikan," tulis penggemar mentega ini di Daily Mail.

Menurut Blythman, meski bukti-bukti sudah diajukan, perusahaan-perusahaan besar yang memproduksi margarin enggan merumuskan ulang formula produk mereka. Lemak terhidrogenasipun dilarang di beberapa bagian Amerika Serikat karena kecemasan akan efeknya terhadap kesehatan.

Kali ini, para produsen menonjolkan margarin yang terbuat dari minyak sayuran yang melalui proses penyusunan molekul lemak, sehingga tak begitu padat. Dengan demikian, diharapkan margarin menjadi lebih menyehatkan.

Namun, masih ada yang perlu dikhawatirkan. Menurut Blythman, margarin mengandung bahan tambahan sintetis dan murahan, serta minyak berkualitas rendah yang dimurnikan untuk keperluan industri. "Tanpa pewarna, margarin tidak berwarna kuning sama sekali, melainkan abu-abu kotor yang merusak selera," ujarnya.

Blythmanpun mengutip sebuah penelitian pada akhir 1960-an dan awal 1970-an. Sampelnya adalah pria Australia paruh baya yang pernah mengalami sakit jantung atau angina (sakit di dada ketika otot jantung tak mendapat cukup darah).

0 comments:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top