0 comments

Kisah Nyata Karna Miskin Paru Paru Harus Di Pompa

Selama 2 tahun, Fu Xuepeng (23 tahun) harus hidup dengan bantuan ventilator. Namun bukanlah alat canggih yang banyak terdapat di ruang ICU, melainkan ventilator plastik yang harus dipompa dengan tangan.  bldirgantara.blogspot.com
bldirgantara.blogspot.com


Xuepeng mengalami kelumpuhan dan tak mampu menggerakkan tubuhnya semenjak mengalami kecelakaan sepeda motor 2 tahun lalu. Sayangnya, keluarganya terlalu miskin sehingga tidak bisa membayar biaya perawatan di rumah sakit. bldirgantara.blogspot.com



Dalam sehari, mereka harus bergantian untuk memompa paru-paru Xuepeng hingga ribuan kali. Tiga menit saja kelupaan atau berhenti melakukan kompresi (pemompaan) konstan dengan tangan, bisa membuat Xuepeng tewas. bldirgantara.blogspot.com


Alat ventilator mekanik kuno (kanan) didapat berkat bantuan kerabat

Sebenarnya beban mereka agak sedikit berkurangi sejak salah satu kerabat memberikan bantuan sebuah ventilator mekanik kuno, yang biayanya sekitar 200 renmimbi (sekitar Rp 310.000).
bldirgantara.blogspot.com

Penderitaannya semakin berat karena udara yang dingin
bldirgantara.blogspot.com
Mesin ventilator kuni tersebut terhubung dengan tubuh Xuepeng, yang tergeletak di tempat tidur dengan mengenakan topi merah untuk melindunginya dari serangan udara dingin.



Kedua orangtuanya bergantian memompa paru-paru Xuepeng pada siang hari agar hemat listrik

Namun meski sudah mendapatkan bantuan mesin, kedua orang tuanya masih harus terus melakukan tugas rutinitas memompa dengan tangan di siang hari. Alasannya, untuk menghemat biaya tagihan listrik agar tidak terlalu mahal.  bldirgantara.blogspot.com



Betapa nasib dan kehidupan keluarganya amat memprihatinkan
bldirgantara.blogspot.com
Setelah foto-foto mereka beredar luas di media China, sumbangan besar pun mengalir, yang berasal dari sebuah desa distrik Huangyan di Provinsi Zhejiang, China. Bantuan tersebut berupa uang tunai dan ventilator modern yang dikirim oleh sebuah perusahaan di Beijing. bld
(MSN, Telegraph, AFP)





sumber

0 comments:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top