0 comments

Drama Musikal 'Sang Kuriang': Legenda Sunda dalam Cita Rasa Gothic

Drama Musikal 'Sang Kuriang'
Drama Musikal 'Sang Kuriang'
Jakarta - Darah 'lah tertumpah / Mari kita... / Memestakan pembunuhnya!

Itulah nyanyian sukacita para siluman penghuni hutan, setelah menyaksikan Sang Kuriang membunuh Tumang, lelaki buruk rupa lagi bungkuk dan pincang. Tragisnya, hal itu terjadi setelah Sang Kuriang mengetahui bahwa Tumang tak lain ayahnya sendiri!

Rahasia itu baru saja diungkap oleh sang ibu, Dayang Sumbi. Dan, lebih tragisnya lagi, setelah membunuh ayahnya, Sang Kuriang kemudian juga meragukan bahwa Dayang Sumbi adalah ibu kandungnya. Memangnya, siapa yang menyaksikan ketika Dayang Sumbi melahirkan, demikian gugat Sang Kuriang.

Legenda populer yang kelam dari Tanah Sunda itu akan dipentaskan oleh Paduan Suara Universitas Parahyangan (Unpar), Bandung di Teater Jakarta mulai Menggunakan libretto (naskah musikal) karya sastrawan Utuy Tatang Sontani (meninggal pada 1979), pementasan drama musikal 'Sang Kuriang' tersebut nyatanya terasa tetap aktual dan modern.

Pada versi Utuy, cerita rakyat tersebut memang lebih sederhana dibanding versi 'asli' yang dikenal secara turun-temurun. Layaknya sastra lama pada umumnya, kisah Sangkuriang sebenarnya bersifat "istana sentris". Namun, Utuy mengeluarkannya dari kungkungan dinding kerajaan, dan menjadikannya sebuah cerita yang lebih universal.

Di tangan Utuy, seluruh kejadian dalam 'Sang Kuriang' berlangsung di desa, dan Dayang Sumbi tidak lari menghilang. Selain itu, si Tumang juga bukan anjing seperti dalam versi tradisional, serta Sangkuriang tidak menendang perahu menjadi gunung. Utuy juga sengaja memberi judul naskahnya 'Sang Kuriang' (bukan Sangkuriang), yang dimaksudkan sebagai 'Sang Dewata'.

Tentu saja, atmosfer modern tak hanya lahir dari tokoh dan alur cerita yang berbeda dari versi tradisional. Melainkan, bingkai musik yang dikerjakan oleh Avip Priatna dan Dian HP, serta tata artistik panggung (Sunaryo) dan kostum (Deden Siswanto) juga memberi sumbangan besar menjadikan naskah dari khasanah lama itu begitu menarik. 

Sutradara Wawan Sofyan, bekerja sama dengan koreografer Rachmayati Nilakoesoemah, berhasil mengarahkan 'Sang Kuriang' menjadi padu-padat dan to the point, tanpa kehilangan unsur-unsur dramatiknya yang mampu memainkan emosi penonton. Namun, bila dengan durasi 1,5 jam pertunjukan ini terasa begitu singkat, pujian khusus tentu saja ditujukan kepada dua aktor utamanya.

Vokal yang indah dan prima dari Sita Nursanti sebagai Dayang Sumbi, dan Farman Purnama (bergantian dengan Gebriel Harvianto) sebagai Sang Kuriang begitu membuai dan menghanyutkan. Dengan hampir seluruh dialog dilantunkan dalam nyanyian, ekspresi vokal mereka mampu memberi tekanan-tekanan tertentu pada tiap adegan. Sehingga penonton bisa merasakan, misalnya kegilaan Sang Kuriang yang meminang ibunya sendiri, atau ketakutan Dayang Sumbi bahwa anaknya itu mampu memenuhi syarat untuk menyediakan telaga dan perahu sebelum fajar tiba.

Kekompakan dan harmonisasi vokal paduan suara pada adegan-adegan yang menampilkan para siluman memberi kekuatan tersendiri pada pementasan tersebut. Secara umum, atmosfer gothic jadi terasa menyelimuti, dengan daya cekam yang memuncak ketika dipadukan dengan tembang Sunda pada adegan kematian. Sebagai pentas yang tujuan utamanya merupakan bagian dari rangkaian perayaan 50 tahun Paduan Suara Unpar, drama musikal 'Sang Kuriang' punya kelas tersendiri.

Di tengah kenikmatan pada visualisasi yang serba minimalis namun memikat, jangan lupa untuk mencermati lirik-lirik yang dilantunkan dalam nyanyian, yang mengandung berbagai renungan tentang hakikat kebenaran dan eksistensi manusia. Pertunjukan yang disponsori oleh Djarum Apresiasi Budaya tersebut dijual dengan harga tiket beragam, dari Rp 100 ribu hingga Rp 1 Juta. Selama 3 hari,  pertunjukan digelar 2 kali per harinya, yakni setiap pukul 16.00 dan 20.00 WIB.

0 comments:

Post a Comment

 
Toggle Footer
Top