Foto-Foto Kuno Kekejaman Nazi (Bagian 2)

Pembantaian masal yang dilakukan oleh NAZI terhadap bangsa Yahudi hingga kini masih merupakan kontroversi yang masih di perdebatkan kebenarannya. Dalam blogwalking yang saya lakukan saya menemukan pembahasan yang mungkin akan sedikit membuka pemahaman kita tentang hal tersebut.
Berikut ini sedikit gambaran yang saya peroleh dari http://yuhendrablog.wordpress.com:


Holocaust (dari bahasa Yunani: holokauston yang berarti “persembahan pengorbanan yang terbakar sepenuhnya”) adalah genosida sistematis yang dilakukan Jerman Nazi terhadap berbagai kelompok etnis, keagamaan, bangsa, dan sekuler pada masa Perang Dunia II.

Bangsa Yahudi di Eropa merupakan korban-korban utama dalam Holocaust, yang disebut kaum Nazi sebagai “Penyelesaian Terakhir Terhadap Masalah Yahudi“. Jumlah korban Yahudi umumnya dikatakan mencapai enam juta jiwa. Genosida ini yang diciptakan Adolf Hitler dilaksanakan, antara lain, dengan tembakan-tembakan, penyiksaan, dan gas racun, di kampung Yahudi dan Kamp konsentrasi.

Selain kaum Yahudi, kelompok-kelompok lainnya yang dianggap kaum Nazi “tidak disukai” antara lain adalah bangsa Polandia, Rusia, suku Slavia lainnya, penganut agama Katolik Roma, orang-orang cacat, orang cacat mental, homoseksual, Saksi-Saksi Yehuwa (Jehovah’s Witnesses), orang komunis, suku Gipsi (Orang Rom dan Sinti) dan lawan-lawan politik. Mereka juga ditangkap dan dibunuh. Jika turut menghitung kelompok-kelompok ini dan kaum Yahudi juga, maka jumlah korban Holocaust bisa mencapai 9-11 juta jiwa.

PENGINGKARAN HOLOCAUST

Pengingkaran holocaust atau holocaust denial adalah kepercayaan bahwa Holocaust tidak pernah terjadi, atau jauh lebih sedikit dari 6 juta orang Yahudi yang dibunuh oleh Nazi; bahwa tidak pernah ada rencana terpusat untuk memusnahkan bangsa Yahudi; atau bahwa tidak ada pembunuhan masal di kamp-kamp konsentrasi. Mereka yang percaya akan hal ini biasanya menuduh bangsa Yahudi atau kaum Zionis mengetahui hal ini dan mengadakan konspirasi untuk mendukung agenda politik mereka. Karena Holocaust dianggap ahli-ahli sejarah sebagai salah satu kejadian paling banyak didokumentasikan dalam sejarah, pandangan-pandangan ini tidak dianggap kredibel, dengan organisasi-organisasi seperti American Historical Association mengatakan bahwa Holocaust denial sebagai “at best, a form of academic fraud.”[2] Pernyataan holocaust denial di muka umum adalah pelanggaran hukum di sepuluh negara Eropa, termasuk Perancis, Polandia, Austria, Swiss, Belgia, Romania, dan Jerman.

Holocaust deniers lebih suka disebut Holocaust “revisionists”. Kebanyakan ahli sejarah mengatakan bahwa istilah ini menyesatkan. Historical revisionism adalah bagian dari ilmu sejarah; yaitu penyelidikan ulang dari accepted history (sejarah yang sudah diterima secara umum) dengan tujuan untuk lebih memperjelas peristiwa tersebut. Sebaliknya, negationist dapat secara sengaja menggunakan catatan sejarah yang salah; seperti ditulis Gordon McFee: “Revisionists depart from the conclusion that the Holocaust did not occur and work backwards through the facts to adapt them to that preordained conclusion. Put another way, they reverse the proper methodology … thus turning the proper historical method of investigation and analysis on its head.” [3]

Public Opinion Quarterly juga menyimpulkan: “Tidak ada ahli sejarah terkemuka yang mempertanyakan kenyataan Holocaust, dan mereka yang mendukung Holocaust denial kebanyakan adalah anti-Semit dan/atau neo-Nazi.”

Holocaust denial sangat populer dalam penentang-penentang Israel dari kaum Muslim karena memang banyak bukti yang dikeluarkan oleh ilmuwan barat sendiri yang menjelaskan kebohongan holocaust ini. Disertasi doktor Mahmoud Abbas, Presiden Palestina, meragukan bahwa kamar gas digunakan untuk membunuh orang-orang Yahudi dan mengatakan bahwa jumlah orang Yahudi yang dibunuh dalam Holocaust kurang dari 1 juta jiwa.[4][5] Abbas belum pernah menyatakan pandangan ini sejak ditunjuk menjadi Perdana Menteri Palestina pada tahun 2003, dan telah membantah bahwa ia adalah seorang Holocaust denier. Pada akhir 2005, presiden Iran Mahmoud Ahmadinejad menggambarkan Holocaust sebagai “mitos pembantaian orang Yahudi.” [6][7]

Sebenarnya dari kalangan ilmuwan barat sendiri ada beberapa yang menyangkal adanya Holocaust, di antaranya: Pengarang Perancis Roger Garaudy, Professor Robert Maurisson, Ernst Zundel, David Irving, dll. tetapi hampir semuanya dinyatakan bersalah dan dijebloskan kedalam penjara termasuk Pada 15 Feb 2007, Ernst Zundel seorang Holocaust denier dihukum 5 tahun penjara [1]. Seorang pengacaranya, Herbert Schaller, menghujah bahwa semua bukti tentang adanya Holocaust hanya berdasarkan pengakuan korban-korbannya saja, bukan berdasarkan fakta-fakta yang jelas. Ernst Zundel ini juga pernah ditahan pada tahun 1985, dan 1988 dalam kasus yang sama.

Semua hal di atas sangat kontras dengan slogan negara-negara barat sendiri yang menyatakan kebebasan berpendapat apalagi disertai bukti-bukti ilmiah tentang kebohongan Holocaust terutama digunakannya kamar gas oleh Nazi di Polandia, tetapi begitu menyinggung masalah yang menggugat hal ini mereka langsung memberangus habis penentang-penentangnya sehingga banyak kalangan menilai adanya lobby Yahudi yang berdiri dibelakangnya dalam mempengaruhi putusan pengadilan.[8]

HARI PERINGATAN HOLOCAUST

Dengan suara bulat, didalam sidang Majelis Umum PBB pada 1 November 2005, ditetapkan bahwa tanggal 27 Januari sebagai “Hari Peringatan Korban Holocaust”. 27 Januari 1945 adalah hari dimana tahanan kamp konsentrasi NAZI di Auschwitz-Birkenau dibebaskan. Bahkan sebelum PBB menetapkannya, tanggal 27 Januari telah di tetapkan sebagai Hari Peringatan Korban Holocaust oleh Kerajaan Inggris sejak tahun 2001, sebagaimana halnya di negara-negara lain, mencakup Swedia, Italia, Jerman, Finlandia, Denmark dan Estonia[9]. Israel memperingati Yom HaShoah vea Hagvora, “Hari Hari Peringatan Holocaust dan Keberanian Bangsa Yahudi” pada pada hari ke 27 bulan Nisan, bulan Ibrani, yang biasanya jatuh pada bulan April[9]. Hari peringatan ini biasanya juga di peringati oleh Yahudi di luar Israel[9].

DAMPAK PERiSTIWA HOLOCAUST BAGI MASYARAKAT YAHUDI.

Pendapat saya pribadi, bahwa bangsa Yahudi memiliki dendam tersendiri dari peristiwa kelam yang nenek moyangnya rasakan pada masa Perang Dunia II silam, puncaknya bangsa yahudi berupaya dengan sekuat tenaga membuktikan kekuatan EKSISTENSI nya di Dunia, bahkan mereka berupaya untuk menguasai dunia dengan sejumlah sistem – sistem yang mereka pergunakan, berupaya menambah ilmu pengetahuan dan berupa menguasai semua negara di dunia walaupun cara penguasaannya tidak lagi dengan cara kekerasan namun lebih pada pendekatan ilmu pengetahuan dan pemerintahan. terbukti bahwa lebih dari 55 % kursi parlemen Amerika diduduki oleh orang-orang yahudi sehingga kebijakan-kebijakan amerika tidak terlepas dari peran orang-orang yahudi. Israel adalah bukti nyata dari penunjukan eksistensi mereka, dengan menggusur kan mengkambing hitamkan palestina adalah strategi politik mereka.

Tidak terlepas pula dengan anggota parlemen Indonesia, saat ini mungkin banyak anggota dewan kita yang mengaku beragama tetapi berpaham yahudi.


  • DAPATKAH PERISTIWA HOLOCAUST DIKATAKAN SEBAGAI PROPAGANDA YAHUDI ???


  • DAPATKAH PERISTIWA HOLOCAUST DIKATAKAN SEBAGAI PENCARI SIMPATI DARI KAUM YAHUDI ??















Sumber :

^ Sedarlah! 8 Maret 2005, h. 15-6, Watchtower Bible and Tract Society of New York, Inc.
^ Donald L. Niewyk, ed. The Holocaust: Problems and Perspectives of Interpretation, D.C. Heath and Company, 1992.
^ Gord McFee, “why ‘Revisionism’ isn’t,” The Holocaust History Project (accessed June 8, 2005).
^ Was Abu Mazen a Holocaust Denier? By Brynn Malone (History News Network)
^ Abu Mazen: A Political Profile. Zionism and Holocaust Denial by Yael Yehoshua (MEMRI) April 29, 2003
Foto-Foto Kuno Kekejaman Nazi (Bagian 2)

Related Posts

Dedic Ahmad
Foto-Foto Kuno Kekejaman Nazi (Bagian 2)
By Risalah Hatiku
Published: 2012-11-13T06:44:00-08:00
Foto-Foto Kuno Kekejaman Nazi (Bagian 2)
5.0 99 reviews
Foto-Foto Kuno Kekejaman Nazi (Bagian 2)
Posted by: Risalahati Dedic Ahmad Updated at: 6:44 AM

No comments:

Post a Comment